Reporter : Arment
SIJORI MANDIRI----Meski sarana dan prasarana penunjang praktek masih terbatas, namun persiapan dalam menghadapi uji kompetensi para siswa SMK Al Jabar paling siap. Hal ini terbukti dari msing-masing jurusan saat diwawancarai Tim Fokus Pendidikan Sijori Mandiri, rata-rata menyatakan siap menghadapinya. Hanya saja untuk ujian nasional (UN), para siswa kelihatannya masih terus mengesanya dengan pendalaman materi yang di Un-kan, seperti matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Seperti pengakuan dari Muhammad Fajri siswa kelas III jurusan Electronika, kalau ia sejak semester awal sudah merasa siap mengikuti ujian kompetensi ini, karena bahan praktek yang diujikan telah ia kuasai dengan benar. Hal ini tiada lain, karena saat prakin, ditempatkan pada bidang yang sesuai dengan jurusannya. "Seperti pelajaran esiloskop, reparation, dan materi lainnya telah saya kuasai saat prakin, karena pelajaran yang diterapkan oleh guru di SMK Al Jabar sangat pas sekali dengan ditempat prakin saya itu. Malah saya merasa siap dan pede tuh, bersaing dibursa tenaga kerja nanti. Apalagi tempat saya prakin telah menawarkan pekerjaan setelah lulus nanti," ujar Fajri.
Bukan hanya Fajri saja, seperti Aldi Irwandi siswa kelas III jurusan Mesin Produksi SMK Al Jabar, mengaku siap menghadapi uji konpetensi ini, karena semua teori yang dipelajari seperti mesin bubut, las, capling dan lainnya telah ia kusai dengan baik. Aldi juga sama ditawari perusahaan untuk bekerja di tempat prakinnya itu selepas lulus nanti.
"Sesuai bidang saya jurusan mesin produksi, kayanya sudah dipahami semuanya karen diperdalam saat prakin tadi. Ini berkat sekolah yang menempatkan saya untuk prakin sangat cocok dengan jurusan saya ini," kata Aldi dengan bangga. Meski demikian, baik Aldi maupun Fajri, tetap harus berjuang saat uji kompetensi dan UN nanti, karena faktor grogi dan lainnya bisa saja mempengaruhi meski dirinya merasa percaya diri menghadapinya.
Siasati Keterbatasan
Sementara menurut Kepala Sekolah SMK Al Jabar, Drs Refio, meski keterbatasan sarana yang dimiliki sekolahnya untuk praktek siswa, tapi ia bisa menyiasatinya dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan dan sekolah negeri (SMKN 1-red) dalam memanfaatkan fasilitas praktek yang dibutuhkan siswanya itu. Bahkan guru SMKN 1 sendiri diminta untuk mengajar di sekolahnya minimal 1 kali dalam seminggu.
Hal ini dalam ia lakukan dalam upaya menstandarkan pelajaran di SMK Al Jabar dengan SMKN 1 Batam. "Kita memang mengharapkan bantuan pemerintah untuk melengkapi sarana ini, karena pemerintah sendiri sudah tahu apa saja yang kita butuhkan itu. Hanya saja sejauh ini belum ada bantuan yang kita terima," jelas Rafio.
Meski demikian, Refio merasa optimis, kalau SMK Al Jabar bisa lebih maju lagi dan standar dengan SMK yang telah memadai. Bahkan tahun ajaran mendatang, Refio berencana akan membuka jurusan Informatika Komputer, karena ia merasa mampu menciptakan SDM yang unggul dengan kemampuan guru didik dan sarana yang ia miliki itu.
"SMK kita sekarang telah ditunjuk menjadi SMK Aliansi dan menjadi SMK Model. Karena melihat prestasi yang kita tunjukan dari tahun ketahun terus meningkat. Makanya pada 2010 ini, kita akan mengadakan pelatihan SDM guru yang menguasai ilmu dan teknologi, serta paham betul mengatur manajemen sekolah," katany.
Walaupun SMK Al Jabar masih keterbatasan sarana, tapi sejauh ini telah memberikan beasiswa belajar bagi siswa kurang mampu dengan menglang bantuan dari donator, seperti bantuan beasiswa dari Yayasan Mesjid Raya, Poltek Batam, dan beasiswa dari dana BKM. (arment)
Jumat, 26 Februari 2010
Tim Penguji Didatangkan dari Perusahaan
Reporter : Arment
2.128 Siswa SMK, Pebruari Jalani Uji Kompetensi
2.128 Siswa SMK, Pebruari Jalani Uji Kompetensi
SIJORI MANDIRI---Para siswa di sekolah menengah kejuruan (SMK) di Batam siap menghadapi uji kompetensi keahlian yang akan di gelar pada awal Pebruari 2010 mendatang. Berdasarkan keterangan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, siswa yang akan mengikuti uji kompetensi ini berjumlah 2.128 orang.
Uji kompetensi ini merupakan bekal bagi siswa dalam memasuki dunia kerja. Karrena, sertifikat kompetensi yang akan mereka dapatkan adalah syarat penting ketika para lulusan memasuki profesi spesifik mereka. Uji kompetensi ini meliputi ujian tulis (teori kejuruan) dan praktik kejuruan yang bersifat penugasan perorangan. Serta merupakan wajib diikuti siswa SMK, karena ini merupakan persyaratan untuk mengikuti ujian nasional. Bila siswa tidak mengikuti uji kompetensi ini, maka siswa tersebut tidak lulus pada ujian nasional tahun ini.
Kepala Disdik Kota Batam Drs H Muslim Bidin, menyatakan pelaksanaan ujian teori kejuruan akan dilaksanakan pada awal Pebruari 2010 mendatang. Namun Tim Penguji kompetensi ini melibatkan pihak luar, misalnya untuk perhotelan melibatkan tenaga hotel yang mempuanyi sertifikat keahlian. Begitu pula jurusan Otomotif, industri, elekto dan lainnya melibatkan pihak luar yang berkompeten.
Dikatakan Muslim, uji praktek kompetensi ini merupakan salah satu ujian yang harus di ikuti oleh siswa kelas 3 SMK, dimana hasil dari ujian ini akan menjadi tolak ukur kompentensi siswa setelah menempuh pendidikan di SMK. Menurut Muslim, dalam uji kompetensi ini terbagi menjadi 2 bagian, yakni teori dan praktik. Misalnya untuk uji kompetensi teori akan dilakukan bersamaan dengan Uji Nasional (UN). Sedangkan prakteknya dilakukan sebulan lebih dahulu sebelum UN dilaksanakan.
Dijelaskan Muslim, untuk durasi waktu pelaksanaan ujian praktek ini antara 18 hingga 24 jam sesuai dengan karakteristik program keahlian. Dalam kegiatan tersebut, kata dia, penyelenggara ditingkat satuan pendidikan melakukan kerjasama dengan dunia usaha dan industri (DUDI) yang merupakan pasangan dalam pelaksanaan ujian praktek kejuruan.
Selain itu, sekolah juga bisa melaksanakan ujian praktek kejuruan di SMK yang memenuhi persyaratan dan kelayakan maupun di DUDI pasangannya. Sekolah pun juga menggunakan ketiga paket soal yang tersedia atau dapat memilih diantara ketiga paket soal praktek kejuruan sesuai dengan kecocokan materi pembelajaran, ketersediaan peralatan dan bahan praktik kejuruan, jelasnya.
Tak hanya itu saja, dijelaskan Muslim, sekolah juga harus menerapkan bahan peralatan dan alat penunjang praktek tersebut. Sekolah pun diperkenankan memberikan soal praktek kejuruan kepada peserta uji sebelum pelaksanaan ujian. Serta kata dia, penilaian ujian praktek kejuruan ini dengan menggunakan format penilaian yang tersedia.
Sedangkan Penguji sendiri, melakukan penilaian sesuai dengan karakteristik program keahlian berdasarkan produk yang dihasilkan oleh peserta. Selain itu, penguji juga memberikan bobot dan skor untuk setiap komponen yang dinilai. Sementara untuk pengumuman hasil penilian ini dilakukan setelah sekolah mengirimkan ke Disdik Kota untk diteruskan kepada Disdik provinsi, selanjutnya dikirimkan ke Puspendik bersama-sama dengan hasil pemindaian Lembar Jawaban UN ke 4 mata pelajaran lainnya.
Penguji Kerjasama Arsita dan Perhotelan
Sementara Tim Penguji pada uji kompetensi dilaksanakan di SMKN 2 Batam, rencananya akan kerjasama dengan pihak Arsita dan Perhotelan untuk jurusan Usaha Jasa Pariwisata dan Jurusan Perhotelan. Sedangkan untuk jurusan Akutansi, SMKN 2 Batam, akan kerjasama dengan Akuntan Public.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 2 Batam, Sisrayanti, menyatakan meski Tim Penguji untuk Uji Kompetensi ini dilakukan pihak luar, namun tetap mengacu pada prosedur operasional standar (POS) UN (Memakai kisi-kisi UN). Sedangkan pelaksanaannya tetap akan dipantau dan diawas pihak Disdik dan sekolah. Meski Tim Penguji didatangkan dari luar, namun pihak sekolah terlebih dahulu telah melakukan seleksi, minimal memiliki sertifikat keahlian, jabatan manager, dan memiliki pengalaman bekerja diatas 5 tahun.
"Kalau melihat persiapan siswa menghadapi uji kompetensi nanti terlihat cukup siapa. Karena memanag sejak awal hingga sekarang ini masih terus diberi pembekalan. Dan kebetulan untuk tahun ini, SMKN 2 Batam ada tiga jurusan ikut UN, yakni Akutansi, UJP, dan Perhotelan yang baru tahun ini ikut UN," jelas Sisrayanti.
Untuk uji kompetensi di SMKN 2 Batam akan didakan di sekolah, karena melihat dari sarana yang dimiliki sudah memadai. Seperti pada UN tahun lalu, pelaksaan uji kompetensi berjalan lancar dan tak ada kendala. Malah melihat dari lulusan, hampir semua siswa terserap dunia kerja. "Kita bersyukur baru pertama ikut UN tahun kemarin hampir 98 persen siswa lulus. Ini merupakan prestasi yang patut kita banggakan," kata Sisrayanti lagi.
Pemantapan Digesa
Sementara melihat persiapan uji kompetensi maupun persiapan UN di SMK Al Azhar, para siswa terus menerus digesa, karena sekolah merasa khawatir perolehan dari try out dilakukan pihaknya kurang memuaskan. Berbeda dengan persiapan uji kompetensi, merasa yakin bahwa para siswa dapat menempuh dengan baik. Hal ini dikarenakan hasil dari praktek kerja lapangan (PKL) di perusahaan inputnya cukup bagus, bahkan keberadaan siswa merasa dibutuhkan oleh perusahaan ditempat PKL-nya.
"Mulai dari pemantapan sampai uji kompetensi telah kita siapakan dengan sungguh-sungguh. Karena untuk uji kompetensi ini kita sengaja mendatangkan tim penguji dari perushaan. Tapi kami optimis, anak didik kami bisa menempuhnya dengan baik," jelas Waka Kurikulum SMK Al Azhar, Reni Fitriareni, SPd, menjawab Sijori Mandiri.
Pemantapan UN dan pelatuhan uji kompetensi yang diterapkan SMK Al Azhar, semuanya mengacu pada kisi-kisi UN. Seperti untuk Akutansi, kata Reni, pihaknya menambah lagi jam pelajaran, karena melihat waktu yang dibutuhkan untuk uji kompetensi siswa hingga 5 jam. Meski demikian, ia merasa bangga, berkat usaha gigih para gurunya menyiapkan UN ini, para siswa tahun lalu lulus UN 100 persen. Serta daya serap di dunia usaha cukup bagus.
"Bahkan banyak perusahaan yang menawarkan pekerjaan kepada para siswa sewaktu PKL meski belum lulus sekolah," kata Reni lagi. (arment).
Uji kompetensi ini merupakan bekal bagi siswa dalam memasuki dunia kerja. Karrena, sertifikat kompetensi yang akan mereka dapatkan adalah syarat penting ketika para lulusan memasuki profesi spesifik mereka. Uji kompetensi ini meliputi ujian tulis (teori kejuruan) dan praktik kejuruan yang bersifat penugasan perorangan. Serta merupakan wajib diikuti siswa SMK, karena ini merupakan persyaratan untuk mengikuti ujian nasional. Bila siswa tidak mengikuti uji kompetensi ini, maka siswa tersebut tidak lulus pada ujian nasional tahun ini.
Kepala Disdik Kota Batam Drs H Muslim Bidin, menyatakan pelaksanaan ujian teori kejuruan akan dilaksanakan pada awal Pebruari 2010 mendatang. Namun Tim Penguji kompetensi ini melibatkan pihak luar, misalnya untuk perhotelan melibatkan tenaga hotel yang mempuanyi sertifikat keahlian. Begitu pula jurusan Otomotif, industri, elekto dan lainnya melibatkan pihak luar yang berkompeten.
Dikatakan Muslim, uji praktek kompetensi ini merupakan salah satu ujian yang harus di ikuti oleh siswa kelas 3 SMK, dimana hasil dari ujian ini akan menjadi tolak ukur kompentensi siswa setelah menempuh pendidikan di SMK. Menurut Muslim, dalam uji kompetensi ini terbagi menjadi 2 bagian, yakni teori dan praktik. Misalnya untuk uji kompetensi teori akan dilakukan bersamaan dengan Uji Nasional (UN). Sedangkan prakteknya dilakukan sebulan lebih dahulu sebelum UN dilaksanakan.
Dijelaskan Muslim, untuk durasi waktu pelaksanaan ujian praktek ini antara 18 hingga 24 jam sesuai dengan karakteristik program keahlian. Dalam kegiatan tersebut, kata dia, penyelenggara ditingkat satuan pendidikan melakukan kerjasama dengan dunia usaha dan industri (DUDI) yang merupakan pasangan dalam pelaksanaan ujian praktek kejuruan.
Selain itu, sekolah juga bisa melaksanakan ujian praktek kejuruan di SMK yang memenuhi persyaratan dan kelayakan maupun di DUDI pasangannya. Sekolah pun juga menggunakan ketiga paket soal yang tersedia atau dapat memilih diantara ketiga paket soal praktek kejuruan sesuai dengan kecocokan materi pembelajaran, ketersediaan peralatan dan bahan praktik kejuruan, jelasnya.
Tak hanya itu saja, dijelaskan Muslim, sekolah juga harus menerapkan bahan peralatan dan alat penunjang praktek tersebut. Sekolah pun diperkenankan memberikan soal praktek kejuruan kepada peserta uji sebelum pelaksanaan ujian. Serta kata dia, penilaian ujian praktek kejuruan ini dengan menggunakan format penilaian yang tersedia.
Sedangkan Penguji sendiri, melakukan penilaian sesuai dengan karakteristik program keahlian berdasarkan produk yang dihasilkan oleh peserta. Selain itu, penguji juga memberikan bobot dan skor untuk setiap komponen yang dinilai. Sementara untuk pengumuman hasil penilian ini dilakukan setelah sekolah mengirimkan ke Disdik Kota untk diteruskan kepada Disdik provinsi, selanjutnya dikirimkan ke Puspendik bersama-sama dengan hasil pemindaian Lembar Jawaban UN ke 4 mata pelajaran lainnya.
Penguji Kerjasama Arsita dan Perhotelan
Sementara Tim Penguji pada uji kompetensi dilaksanakan di SMKN 2 Batam, rencananya akan kerjasama dengan pihak Arsita dan Perhotelan untuk jurusan Usaha Jasa Pariwisata dan Jurusan Perhotelan. Sedangkan untuk jurusan Akutansi, SMKN 2 Batam, akan kerjasama dengan Akuntan Public.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 2 Batam, Sisrayanti, menyatakan meski Tim Penguji untuk Uji Kompetensi ini dilakukan pihak luar, namun tetap mengacu pada prosedur operasional standar (POS) UN (Memakai kisi-kisi UN). Sedangkan pelaksanaannya tetap akan dipantau dan diawas pihak Disdik dan sekolah. Meski Tim Penguji didatangkan dari luar, namun pihak sekolah terlebih dahulu telah melakukan seleksi, minimal memiliki sertifikat keahlian, jabatan manager, dan memiliki pengalaman bekerja diatas 5 tahun.
"Kalau melihat persiapan siswa menghadapi uji kompetensi nanti terlihat cukup siapa. Karena memanag sejak awal hingga sekarang ini masih terus diberi pembekalan. Dan kebetulan untuk tahun ini, SMKN 2 Batam ada tiga jurusan ikut UN, yakni Akutansi, UJP, dan Perhotelan yang baru tahun ini ikut UN," jelas Sisrayanti.
Untuk uji kompetensi di SMKN 2 Batam akan didakan di sekolah, karena melihat dari sarana yang dimiliki sudah memadai. Seperti pada UN tahun lalu, pelaksaan uji kompetensi berjalan lancar dan tak ada kendala. Malah melihat dari lulusan, hampir semua siswa terserap dunia kerja. "Kita bersyukur baru pertama ikut UN tahun kemarin hampir 98 persen siswa lulus. Ini merupakan prestasi yang patut kita banggakan," kata Sisrayanti lagi.
Pemantapan Digesa
Sementara melihat persiapan uji kompetensi maupun persiapan UN di SMK Al Azhar, para siswa terus menerus digesa, karena sekolah merasa khawatir perolehan dari try out dilakukan pihaknya kurang memuaskan. Berbeda dengan persiapan uji kompetensi, merasa yakin bahwa para siswa dapat menempuh dengan baik. Hal ini dikarenakan hasil dari praktek kerja lapangan (PKL) di perusahaan inputnya cukup bagus, bahkan keberadaan siswa merasa dibutuhkan oleh perusahaan ditempat PKL-nya.
"Mulai dari pemantapan sampai uji kompetensi telah kita siapakan dengan sungguh-sungguh. Karena untuk uji kompetensi ini kita sengaja mendatangkan tim penguji dari perushaan. Tapi kami optimis, anak didik kami bisa menempuhnya dengan baik," jelas Waka Kurikulum SMK Al Azhar, Reni Fitriareni, SPd, menjawab Sijori Mandiri.
Pemantapan UN dan pelatuhan uji kompetensi yang diterapkan SMK Al Azhar, semuanya mengacu pada kisi-kisi UN. Seperti untuk Akutansi, kata Reni, pihaknya menambah lagi jam pelajaran, karena melihat waktu yang dibutuhkan untuk uji kompetensi siswa hingga 5 jam. Meski demikian, ia merasa bangga, berkat usaha gigih para gurunya menyiapkan UN ini, para siswa tahun lalu lulus UN 100 persen. Serta daya serap di dunia usaha cukup bagus.
"Bahkan banyak perusahaan yang menawarkan pekerjaan kepada para siswa sewaktu PKL meski belum lulus sekolah," kata Reni lagi. (arment).
Komentar
Sulastri
Jurusan UJP
SMKN 2 Batam
Jurusan UJP
SMKN 2 Batam
Tour Planing dan Schadule Masih Kurang
Sejauh ini persiapan menghadapi uji kompetensi yang harus aku mengesa lagi adlah pelajaran tour planing dan schadule masih kurang paham. Tapi itu bisa aku atasi, karena melihat dari prakin yang aku lakukan di travel cukup lancar-lancar saja tak ada kendala. Malah pernah tempat aku prakin dulu ditawari untuk bekerja bila lulus sekolah nanti. Selain itu materi UN harus lebih aku mantapkan lagi dengan banyak belajar di rumah.
Syahriani
Jurusan Perhotelan
SMKN 2 Batam
Jurusan Perhotelan
SMKN 2 Batam
Siap Hadapi Uji Kompetensi
Untuk menghadapi uji kompetensi nanti aku sudah siap, hanya tinggal memantapkan lagi bidang kereceptionisan saja, terutama dalam pengusaan bahasa Inggris. Sekarang yang masih kurang adalah untuk UN pada pelajaran matematika harus lebih ditingkatkan lagi. Makanya upaya aku sekarang ini banyak belajar sama guru dan kerja kelompok bersama kawan. Mudah-mudahan saja bisa lebih mantap lagi.
Fatmawati
Jurusan Akutansi
SMK Al Azhar
Jurusan Akutansi
SMK Al Azhar
Materi UN Masih Kurang
Kalau persiapan uji kompetensi sudah siap, karena ketika prakin sesuai dengan penempatan jurusan. Hanya saja sejauh ini tinggal mempersiapkan materi UN saja, terutama pelajaran matematika yang masih lemah perlu digesa lagi. Salah satunya yang aku lakukan banyak belajar dan bertanya pada guru serta teman yang sudah mengerti.
Rendi Zandra
Jurusan Pemasaran
SMK Al Jabar
Jurusan Pemasaran
SMK Al Jabar
Pengelola Alat Transaksi Belum Paham
Yang perlu aku gesa lagi dalam menghadapi uji kompetensi nanti adalah pemahaman pengelolaan alat transaksi, karena memang terlalu rumit. Kalau soal marketing atau pemasaran, kayanya sudah lebih dari cukup. Apalagi aku sendiri pernah mempraktekan cara memasarkan produk sabun cukup laku juga. Begitu juga materi UN yang perlu digesa adalah pelajaran matematika masih dibawah standar SKL saat try out kemarin.
Nilai UN Jeblok Kepsek Akan Dievaluasi
Disdik Tingkatkan UN
Reporter : Arment
SIJORI MANDIRI--Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam optimis hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2010 ini akan lebih bagus dari hasil UN tahun 2009 sebelumnya. Hal ini dikarenakan pola pemantapan dilakukan pihak sekolah cukup bagus. Namun apabila nanti hasil UN malah sebaliknya kurang memuaskan atau ada penurunan dari UN 2009 lalu, maka Disdik akan segera mengevaluasi pihak sekolah bersangkutan.
"Ya kalau nanti hasil UN 2010 ini kurang memuaskan atau malah sebaliknya ada penurunan, maka kita akan melakukan evaluasi terhadap sekolah. Karena Kepala Sekolah kurang serius menggenjot persiaoan UN ini," ujar Kepala Disdik Kota batam, Drs H Muslim Bidin usai menghadiri ulang tahun Yayasan Keluarga Batam ke-31 beberapa hari lalu.
Muslim juga menyarankan agar kepsek yang tidak mampu menjalankan fungsinya, untuk mundur dari pada nantinya mempola manajemen sekolah kurang bagus. Maka dari itu, ia telah menyiapkan tim evaluasi yang bertugas menilai kepsek yang hasil UN-nya kurang memuaskan, karena Disdik sendiri telah banyak upaya memberikan pelatihan dalam mempersiapkan UN. Bahkan tiap sekolah akan menggelar try out sebanyak 5 kali.
"Karena melihat persiapan UN cukup matang, maka kita telah mentargetkan UN 2010 mendatang bisa mencapai kelulusan 85-90 persen. Apalagi sistem UN untuk tahun 2010 ini agak longgar dua kali digelar peluang lulus itu cukup besar, yakni UN utama dan UN ulangan bagi siswa yang tidak lulus UN pada salah satu mata pelajaran saja," jelas Muslim.
Terkait pelaksanaan UN, kata Muslim, masih mengacu pada pola lama masih mengakomodir soal-soal dari derah 25 persen hasil dari rumusakan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) sekitar 25 persenan. Selebihnya Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang membuat.
Berusaha Sebaik Mungkin
Sementara Kepala Sekolah SMPN 12 Batam, Drs. Guswandinata, menyatakan untuk persiapan UN ini pihaknya bersama para guru berusaha sebaik mungkin, salah satunya dengan pemantapan sore hari selama 1 jam dan melakukan try out sesering mungkin. Bahkan tiap anak didik telah diklasifikasikan sesuai dengan kemampuan anak. Hal ini ia lakukan agar lebih efektif dalam pemantapan.
"Try out malah akan kita gelar lagi pada tanggal 19 sampai 21 Januari mendatang, bahkan soal try out kita buat sama dengan UN biar si anak terbiasa. Dari try out ini kita targetkan anak didik bisa memperoleh nilai rata-rata 7 keatas, baru merasa puas anak didik siap menghadapi UN ini," kata .Guswandinata.
Sejujurnya Guswandinata sendiri tidak setuju dengan kebijakan UN dijadikan tolak ukur penentu kelulusan siswa. Seharusnya kata dia, kelulusan itu bisa mengakomodir faktor lainnya menyangkut prestasi siswa yang diperoleh selama tiga tahun di sekolah.
"Seharusnya sekolah dilibatkan dalam penentu kelulusan ini, minimal diberi porsi 25 persen untu menentukan kelulusan siswa ini. Karena yang lebih tahu anak itu berprestasi atau tidaknya adalah sekolah itu sendiri, bukan pusat," kata pria yang saat ini tergabung dalam Tim Pengembang Provinsi Kepri ini.
Apalagi kata Guswandinata bila mengacu pada PP no 19 tahun 2005 pada pasal 72 ayat 2, menyebutkan siswa dianggap layak lulus itu, apabila bila tuntas belajar, nilai minimal 75 memuat ahlak mulia, nilai UN dan UAS, dan pengembangan diri.
Sementara sejauh ini, Guswandinata menilai, bila soal-soal UN selalu disamaratakan antara sekolah perkotaan dengan sekolah di pulau yang diketahui minim akan fasilitas sarana penunjang pendidikannya. Namun ia heran, justru sekolah di pulau lah bisa lulus 100 persen, bila dibanding sekolah di perkotaan masih banyak siswanya tidak lulus UN. Hal ini lah kata Guswandinata lagi, yang perlu disikapi kemurnian dari hasil UN itu sendiri.
Setuju Kepsek Dievaluasi
Komite Sekolah SMKN 2 Batam, Lailan SE, sangat mendukung upaya Disdik Kota Batam akan mengevaluasi Kepsek yang UN-nya nanti jeblok itu. Karena ia menilai, Disdik setiap pelaksanaan UN selalu memfokuskan memyiapkan pelaksanaan UN yang akan dilaksanakan Maret 2010 mendatang. Apalagi Disdik juga punya terus menerus memantau dan melakukan rapat evalauasi agar pelaksanaan pra-UN dan UN dapat berjalan dengan baik dan para siswa dapat lulus 100 persen.
Dengan langkah Disdik seperti itu, Lailan optimis, siswa-siswi yang akan mengikuti UN Maret 2010 nanti tetap terhadap persiapan dan UN nanti. Begitu pula upaya sekolah, ia merasa salut dengan tetap melakukan pengayaan mempelajari kembali soal-soal yang telah diberikan untuk ujian-ujian dan pra-UN. Bahkan para siswa yang akan mengikuti UN dipersipakan dengan berbagai macam pola belajar, baik pengajaran, dan mempelajari soal-soal yang telah diberikan. (arment)
Komentar
Kerjasa Primagama
Hasil try out saat penempatan untuk pemantapan MTK masih jeblok, tapi setelah try out yang kedua ada peningkatan karena kita gesa dengan pelatihan dan memotivasi belajar anak didik. Apalagi pemantapan di SMK MHS ini, kerjasama dengan Primagama kami yakin hasilnya akan lebih baik. Makanya kita taergetkan siswa bisa lulus minimal 80 persen, tapi keinginan kita lulus semua.

Jaren Hiskia Pinem
Guru MTK SMK MHS Batam
Tergantung Motivasi Anak
Berhasil tidaknya dalam pemantapan ini, tergantung dari motivasi belajar anak, karena kita sebagai guru telah memberikan yang terbaik sebisa kita dalam pemantapan ini. Disamping itu juga orang tua perlu juga mengawasi di rumah dan membatasi bermain anak, karena guru hanya sebatas lingkungan sekolah saja. Tapi sejauh ini siswa kelas III SMPN 12, motivasi belajarnya cukup meningkat.

Titin Ari Frianti
Guru MTK SMPN 12 Batam
Fisika Masih Lemah
Sejauh ini hasil aku masih lemah pelajaran Fisika, karena susah banyak rumus yang tidak dimengerti. Makanya belajar lebih aku insentifkan lagi. Begitu juga saat try out, MTK jatuh karena soal tidak sesuai dengan waktu yang disediakan. Meski demikian akau tetap berusaha yang terbaik agar nilai nanti memuaskan.
M Fadil Fahleva
Siswa SMPN 12 Batam
Bahasa Inggris Susah
Kalau pelajaran lain sudah lumayan bagus, tapi bahasa Inggris ini masih lemah susah sekali mempelajarinya. Makanya sejak kelas III ini aku belajar lebih digiatkan lagi dan banyak bertanya. Tapi kalau boleh meminta, guru juga harus lebih pres cara mengajar agar tidak stres dan tak membosankan biar pelajaran mudah dicerna.
Rekiko R Putri
Siswi SMPN 12 Batam
Reporter : Arment
SIJORI MANDIRI--Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam optimis hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2010 ini akan lebih bagus dari hasil UN tahun 2009 sebelumnya. Hal ini dikarenakan pola pemantapan dilakukan pihak sekolah cukup bagus. Namun apabila nanti hasil UN malah sebaliknya kurang memuaskan atau ada penurunan dari UN 2009 lalu, maka Disdik akan segera mengevaluasi pihak sekolah bersangkutan.
"Ya kalau nanti hasil UN 2010 ini kurang memuaskan atau malah sebaliknya ada penurunan, maka kita akan melakukan evaluasi terhadap sekolah. Karena Kepala Sekolah kurang serius menggenjot persiaoan UN ini," ujar Kepala Disdik Kota batam, Drs H Muslim Bidin usai menghadiri ulang tahun Yayasan Keluarga Batam ke-31 beberapa hari lalu.
Muslim juga menyarankan agar kepsek yang tidak mampu menjalankan fungsinya, untuk mundur dari pada nantinya mempola manajemen sekolah kurang bagus. Maka dari itu, ia telah menyiapkan tim evaluasi yang bertugas menilai kepsek yang hasil UN-nya kurang memuaskan, karena Disdik sendiri telah banyak upaya memberikan pelatihan dalam mempersiapkan UN. Bahkan tiap sekolah akan menggelar try out sebanyak 5 kali.
"Karena melihat persiapan UN cukup matang, maka kita telah mentargetkan UN 2010 mendatang bisa mencapai kelulusan 85-90 persen. Apalagi sistem UN untuk tahun 2010 ini agak longgar dua kali digelar peluang lulus itu cukup besar, yakni UN utama dan UN ulangan bagi siswa yang tidak lulus UN pada salah satu mata pelajaran saja," jelas Muslim.
Terkait pelaksanaan UN, kata Muslim, masih mengacu pada pola lama masih mengakomodir soal-soal dari derah 25 persen hasil dari rumusakan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) sekitar 25 persenan. Selebihnya Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang membuat.
Berusaha Sebaik Mungkin
Sementara Kepala Sekolah SMPN 12 Batam, Drs. Guswandinata, menyatakan untuk persiapan UN ini pihaknya bersama para guru berusaha sebaik mungkin, salah satunya dengan pemantapan sore hari selama 1 jam dan melakukan try out sesering mungkin. Bahkan tiap anak didik telah diklasifikasikan sesuai dengan kemampuan anak. Hal ini ia lakukan agar lebih efektif dalam pemantapan.
"Try out malah akan kita gelar lagi pada tanggal 19 sampai 21 Januari mendatang, bahkan soal try out kita buat sama dengan UN biar si anak terbiasa. Dari try out ini kita targetkan anak didik bisa memperoleh nilai rata-rata 7 keatas, baru merasa puas anak didik siap menghadapi UN ini," kata .Guswandinata.
Sejujurnya Guswandinata sendiri tidak setuju dengan kebijakan UN dijadikan tolak ukur penentu kelulusan siswa. Seharusnya kata dia, kelulusan itu bisa mengakomodir faktor lainnya menyangkut prestasi siswa yang diperoleh selama tiga tahun di sekolah.
"Seharusnya sekolah dilibatkan dalam penentu kelulusan ini, minimal diberi porsi 25 persen untu menentukan kelulusan siswa ini. Karena yang lebih tahu anak itu berprestasi atau tidaknya adalah sekolah itu sendiri, bukan pusat," kata pria yang saat ini tergabung dalam Tim Pengembang Provinsi Kepri ini.
Apalagi kata Guswandinata bila mengacu pada PP no 19 tahun 2005 pada pasal 72 ayat 2, menyebutkan siswa dianggap layak lulus itu, apabila bila tuntas belajar, nilai minimal 75 memuat ahlak mulia, nilai UN dan UAS, dan pengembangan diri.
Sementara sejauh ini, Guswandinata menilai, bila soal-soal UN selalu disamaratakan antara sekolah perkotaan dengan sekolah di pulau yang diketahui minim akan fasilitas sarana penunjang pendidikannya. Namun ia heran, justru sekolah di pulau lah bisa lulus 100 persen, bila dibanding sekolah di perkotaan masih banyak siswanya tidak lulus UN. Hal ini lah kata Guswandinata lagi, yang perlu disikapi kemurnian dari hasil UN itu sendiri.
Setuju Kepsek Dievaluasi
Komite Sekolah SMKN 2 Batam, Lailan SE, sangat mendukung upaya Disdik Kota Batam akan mengevaluasi Kepsek yang UN-nya nanti jeblok itu. Karena ia menilai, Disdik setiap pelaksanaan UN selalu memfokuskan memyiapkan pelaksanaan UN yang akan dilaksanakan Maret 2010 mendatang. Apalagi Disdik juga punya terus menerus memantau dan melakukan rapat evalauasi agar pelaksanaan pra-UN dan UN dapat berjalan dengan baik dan para siswa dapat lulus 100 persen.
Dengan langkah Disdik seperti itu, Lailan optimis, siswa-siswi yang akan mengikuti UN Maret 2010 nanti tetap terhadap persiapan dan UN nanti. Begitu pula upaya sekolah, ia merasa salut dengan tetap melakukan pengayaan mempelajari kembali soal-soal yang telah diberikan untuk ujian-ujian dan pra-UN. Bahkan para siswa yang akan mengikuti UN dipersipakan dengan berbagai macam pola belajar, baik pengajaran, dan mempelajari soal-soal yang telah diberikan. (arment)
Komentar
Kerjasa Primagama
Hasil try out saat penempatan untuk pemantapan MTK masih jeblok, tapi setelah try out yang kedua ada peningkatan karena kita gesa dengan pelatihan dan memotivasi belajar anak didik. Apalagi pemantapan di SMK MHS ini, kerjasama dengan Primagama kami yakin hasilnya akan lebih baik. Makanya kita taergetkan siswa bisa lulus minimal 80 persen, tapi keinginan kita lulus semua.
Jaren Hiskia Pinem
Guru MTK SMK MHS Batam
Tergantung Motivasi Anak
Berhasil tidaknya dalam pemantapan ini, tergantung dari motivasi belajar anak, karena kita sebagai guru telah memberikan yang terbaik sebisa kita dalam pemantapan ini. Disamping itu juga orang tua perlu juga mengawasi di rumah dan membatasi bermain anak, karena guru hanya sebatas lingkungan sekolah saja. Tapi sejauh ini siswa kelas III SMPN 12, motivasi belajarnya cukup meningkat.
Titin Ari Frianti
Guru MTK SMPN 12 Batam
Fisika Masih Lemah
Sejauh ini hasil aku masih lemah pelajaran Fisika, karena susah banyak rumus yang tidak dimengerti. Makanya belajar lebih aku insentifkan lagi. Begitu juga saat try out, MTK jatuh karena soal tidak sesuai dengan waktu yang disediakan. Meski demikian akau tetap berusaha yang terbaik agar nilai nanti memuaskan.
M Fadil Fahleva
Siswa SMPN 12 Batam
Bahasa Inggris Susah
Kalau pelajaran lain sudah lumayan bagus, tapi bahasa Inggris ini masih lemah susah sekali mempelajarinya. Makanya sejak kelas III ini aku belajar lebih digiatkan lagi dan banyak bertanya. Tapi kalau boleh meminta, guru juga harus lebih pres cara mengajar agar tidak stres dan tak membosankan biar pelajaran mudah dicerna.
Rekiko R Putri
Siswi SMPN 12 Batam
Kamis, 25 Februari 2010
Pendidikan di Batam Masih Jalan Ditempat
Disdik Perlu Melakukan Pemetaan Permasalah Pendidikan
Berbagai kalangan ketika diminta komentarnya seputar pendidikan di Batam beragam pendapat. Namun berdasarkan hasil pendapat secara randum dilakukan pada berbagai pelaku pendidikan, mereka menilai, bila pendidikan di Batam ini masih berjalan ditempat masih perlu pembenahan dan perbaikan disana sini. Apalagi sejauh ini masih ditemukan adanya masyarakat yang termajinalkan dengan
layanan pendidikan wajib belajar (Wajar) 9 tahun dan program pendidikan gratis, masih banyak anak yang putus sekolah dan buta huruf ditemukan di lapangan.
Contoh sederhana saja, tidak sedikit anak dibawah umur berkeliaran menjadi pengemis jalanan, pengamen, penjual koran, dan menjadi anak jalanan. Padahal mereka ini, tergolong anak wajib belajar. Realita ini tidak bisa dipungkiri, karena kerap ditemukan potret nyata kehidupan anak putus sekolah masih marak dilapangan. Namun sejauh ini pemerintah mengkalim, pihaknya merasa telah berhasil mengulirkan program peningkatan pendidikan ini dengan baik.
Seperti diungkapkan Dosen Perguruan Tinggi di Batam, Cici Ratnaningsih, SPd, bila persoalan pendidikan yang masih mengiringi pada 2009 lalu dan hingga sekarang ini. Salah satunya terkait banyaknya guru yang belum bersertifikasi guru, insentif guru yang selalu dipermainkan, kualifikasi guru, ujian nasional (UN), dan kinerja daerah dalam mendukung mutu pendidikan tersebut.
Disarankan Cici, sebaiknya pemerintah Kota Batam segera mengambil langkah kongkrit dengan melakukan pemetaan masalah pendidikan yang ada. Karena kata dia, pemetaan masalah pendidikan ini tujuan utamanya untuk menggambarkan kondisi dan data pendidikan di daerah yang sebenarnya. Terlebih lagi untuk layanan pendidikan di hinterland masih butuh perhatian yang besar dari pemerintah Kota Batam yang sejauh ini sangat termarjinalkan.
Padahal sejauh ini dana untuk pendidikan, kata Cici cukup besar dikucurkan di APBD, hanya saja arahnya tak tepat sasaran. Belum lagi adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Block Grant (BG), serta sejumlah alokasi dana bantuan sosial lainnya dalam upaya peningkatan pendidikan, tapi hasilnya pendidikan masih berjalan di tempat.
Perkataan Cici tadi di benarkan Pemerhati Pendidikan, Drs H Darlispon, MM. Kata mantan anggota DPRD Provinsi Kepri ini, melihat dari pemerataan pendidikan di Batam masih harus perlu di tingkatkan lagi dan masih banyak yang perlu diperbaiki pada tahun 2010 ini. Salah satunya terkait persoalan sertifikasi guru yang belum berjalan sempurna. Sejauh ini, dirinya sendiri banyak menerima keluhan dari para guru, karena masih berstatus Ketua Komite di SMPN 10 Batam, terkait keikutsertaannya dalam program sertifikasi. Mereka (para guru-red) memandang, kata Darlispon, sertifikasi ini telah terjadi diskriminasi, karena banyak guru yang masa mengajarnya singkat sudah mendapatkan sertifikasi. Sementara guru yang sudah mengajar puluhan tahun belum juga mendapat kesempatan tersertifikasi. Hal ini dikarenakan faktor politik, kedekatan, dan ikatan saudara dengan pihak pemangku kebijakan.
"Padahal dalam aturan Peraturan Pemerintah (PP) No 74 sudah jelas bahwa mereka berhak disertifikasi walaupun kualifikasi pendidikannya tidak sarjana. Jadi, ini wajib diprioritaskan lebih dahulu dibandingkan guru-guru yang masa mengajarnya singkat. Jangan karena ada lobi-lobi politik, kedekatan atau ikatan saudara," jelas Darlispon.
Untuk itu, sebaiknya Disdik bisa melihat realita yang ada dan pengaturan kuota sertifikasi guru dapat diperhatikan sehingga berkeadilan bagi para guru. Mereka (guru-red) harus lebih memperhatikan daftar urutan kepangkatan (DUK) guru. Hal lain yang menjadi catatan adalah koordinasi dalam program sertifikasi tersebut.
Begitu pula dengan muitu pendidikan yang ada, dikatakan Cici, perlunya ada penataan lebih baik lagi dan Disdik tahu pemetaan pendidkan ditiap wilayah dengan baik . Karena kata dia, dengan dukungan anggaran 20% baik dari pemerintah pusat, provinsi, dan kota Batam , seharusnya kualitas dan mutu pendidikan lebih baik lagi.
Disdik Disarankan Buka Excellent Class
Sementara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Batam sendiri, disarankan Darlispon, agar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam menerapkan kebijakan kepada setiap sekolah baik SMP maupun SMA negeri untuk menerapkan excellent class atau kelas Akselerasi.
Sesuai dengan artinya, kata Darlispon, kelas akselerasi ini hanya diisi oleh para siswa yang berkualitas atau benar-benar excellent yang bisa cepat menyelesaikan masa studi yang tadinya ditempuh dalam tiga tahun bisa hanya dua tahun saja. Hal ini sangat efektive, karena siswa yang berprestasi ini waktunya tidak tersita dalam mengembangkan IQ dan potensinya.
"Bagi anak yang sering menjadi juara I terus, harus dikasih kesempatan untuk mencoba masuk kelas Akselerasi ini. Nah bila nanti dia tidak mampu menyelesaikan studinya, tidak masalah anak tersebut di kembalikan lagi pada kelas leguler. Hal ini telah dilakukan di salah satu pesantren di Jawa dan ternyata cukup berhasil," ujar Darlispon.
Sejauh ini pada sekolah negeri di Batam, diakui Darlispon, belum menerapkan adanya kelas Akselerasi baru sebatas sekolah unggulan dan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) saja. Berbeda dengan sekolah swasta telah menerapkan sistem tersebut.
Hanya saja konsekwensinya, kata Darlispon, pihak sekolah juga harus menempatkan tenaga pengajar yang benar-benar guru berkualitas. Serta siswa yang masuk ke kelas Akselerasi ini, minimal memiliki IQ 125 dan harus mengikuti beberapa tes akademi, dan ada persetujuan dari orang tua. Namun untuk excellent class ini, tidak semua siswa bisa mengikutinya tentunya bagi siswa yang punya kemampuan tertentu yang bisa masuk kelas ini.
UN Bukan Indikator Keberhasilan Pendidikan
Sementara Ketua Yayasa Pendidikan Al Kaffah, Said Indra, mengisyaratkan agar pemerintah tidak menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai satu indikator menilai keberhasilan pendidikan suatu daerah, karena sejauh ini UN tersebut hanya menilai kemampuan intelektual saja, sebagian kecil dari aspek pendidikan. Karena ruang lingkup pendidikan itu sendiri sangat luas.
Indra menilai, sejauh ini pemerintah daerah selalu mengkait-kaitkan menjadikan UN ini sebagai satu indikator keberhasilan pendidikan. Padahal pendidikan secara keseluruhan meliputi empat aspek, yakni intelektual yang bisa diukur melalui UN, spiritual, emosional dan kinestetik atau jasmani.
Sejauh ini, ia melihat bila UN ini bisa mengukur satu aspek saja dalam pendidikan, yakni intelektual. Sedangkan indikator keberhasilan pendidikan lainnya tidak bisa dipantau melupakan aspek pendidikan lainnya. Padahal, kenyataannya hakekat pendidikan itu sangat luas, tidak hanya keberhasilan dan nilai tinggi ketika UN, namun yang paling penting adalah perubahan perilaku dan emosional yang bagus dari peserta didik.
Ia meghimbau, agar pemerintah dan masyarakat juga bisa melihat bila proses pendidikan itu secara menyeluruh tidak hanya dari nilai UN saja. Sebaiknya ke depannya pemerintah perlu membuat terobosan-terobosan baru dalam meningkatkan mutu pendidikan. " Harus ada inovasi baru dalam mempola pendidikan ini, karena kalau bicara soal dana kita sudah lebih dari cukup. Hanya tinggal bagaimana saja kita membuat inovasi baru dalam peningkatan mutu pendidikan di Batam ini," jelasnya. (arment)
-------------------------------
Komentar
Prestasi Siswa Terus Ditingkatkan
Sebagai guru tentunya kami terus berusaha untuk meningkatkan mortivasi belajar dan prestasi siswa. Disamping itu juga pola kurikulum terus menerus disempurnakan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini terbukti n kelas unggulan semua siswa menunjukan nilai semesteran yang cukup menggembirakan. Sama halnya kelas reguler hanya beberapa orang saja yang kurang. Namun bila hal ini terjadi, komunikasi dengan orang tua selalu kita lakukan .
Zuhernawati
Waka Kurikulum SMPN 4 Batam.
------------
Motivasi Selalu Ditanamkan
Supaya mutu pendidikan baik dan anak berprestasi, kami sebagai guru tak henti-hentinya untuk memotivasi siswa. disamping itu juga pola belajar lebih mengarah kepada IT dan Multi media, serta infocus. Hal ini supaya anak menerima pelajaran mudah dicerna dan tidak bosan . Begitupula pola kurikulum IPA disiati dengan mediasi alam terbuka.
Suwiati
Guru Fiqih MTsN Batam
------------
Selain KKM Ahlak Perlu Tanamkan
Pola belajar dianggap berhasil selain memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM)/ tuntas belajar dan anak pintar, ahlak dan budi pekerti juga perlu ditanamkan. Artinya bila si anak memperoleh nilai kecil, dan prilakunya kurang baik, maka sebagai guru harus memberi kesempatan remidial dan merubah sikap anak didik lebih santun lagi. Kebetulan melihat hasil semesteran pelajaran dan akhlak anak didik di MTsN Batam ini cukup bagus, maka anak pun tidak jarang sekali yang ikut remidial atau pembinan akhlak..
Anedi, S.Ag
Guru Aqidah Ahlak
Berbagai kalangan ketika diminta komentarnya seputar pendidikan di Batam beragam pendapat. Namun berdasarkan hasil pendapat secara randum dilakukan pada berbagai pelaku pendidikan, mereka menilai, bila pendidikan di Batam ini masih berjalan ditempat masih perlu pembenahan dan perbaikan disana sini. Apalagi sejauh ini masih ditemukan adanya masyarakat yang termajinalkan dengan
layanan pendidikan wajib belajar (Wajar) 9 tahun dan program pendidikan gratis, masih banyak anak yang putus sekolah dan buta huruf ditemukan di lapangan.
Contoh sederhana saja, tidak sedikit anak dibawah umur berkeliaran menjadi pengemis jalanan, pengamen, penjual koran, dan menjadi anak jalanan. Padahal mereka ini, tergolong anak wajib belajar. Realita ini tidak bisa dipungkiri, karena kerap ditemukan potret nyata kehidupan anak putus sekolah masih marak dilapangan. Namun sejauh ini pemerintah mengkalim, pihaknya merasa telah berhasil mengulirkan program peningkatan pendidikan ini dengan baik.
Seperti diungkapkan Dosen Perguruan Tinggi di Batam, Cici Ratnaningsih, SPd, bila persoalan pendidikan yang masih mengiringi pada 2009 lalu dan hingga sekarang ini. Salah satunya terkait banyaknya guru yang belum bersertifikasi guru, insentif guru yang selalu dipermainkan, kualifikasi guru, ujian nasional (UN), dan kinerja daerah dalam mendukung mutu pendidikan tersebut.
Disarankan Cici, sebaiknya pemerintah Kota Batam segera mengambil langkah kongkrit dengan melakukan pemetaan masalah pendidikan yang ada. Karena kata dia, pemetaan masalah pendidikan ini tujuan utamanya untuk menggambarkan kondisi dan data pendidikan di daerah yang sebenarnya. Terlebih lagi untuk layanan pendidikan di hinterland masih butuh perhatian yang besar dari pemerintah Kota Batam yang sejauh ini sangat termarjinalkan.
Padahal sejauh ini dana untuk pendidikan, kata Cici cukup besar dikucurkan di APBD, hanya saja arahnya tak tepat sasaran. Belum lagi adanya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Block Grant (BG), serta sejumlah alokasi dana bantuan sosial lainnya dalam upaya peningkatan pendidikan, tapi hasilnya pendidikan masih berjalan di tempat.
Perkataan Cici tadi di benarkan Pemerhati Pendidikan, Drs H Darlispon, MM. Kata mantan anggota DPRD Provinsi Kepri ini, melihat dari pemerataan pendidikan di Batam masih harus perlu di tingkatkan lagi dan masih banyak yang perlu diperbaiki pada tahun 2010 ini. Salah satunya terkait persoalan sertifikasi guru yang belum berjalan sempurna. Sejauh ini, dirinya sendiri banyak menerima keluhan dari para guru, karena masih berstatus Ketua Komite di SMPN 10 Batam, terkait keikutsertaannya dalam program sertifikasi. Mereka (para guru-red) memandang, kata Darlispon, sertifikasi ini telah terjadi diskriminasi, karena banyak guru yang masa mengajarnya singkat sudah mendapatkan sertifikasi. Sementara guru yang sudah mengajar puluhan tahun belum juga mendapat kesempatan tersertifikasi. Hal ini dikarenakan faktor politik, kedekatan, dan ikatan saudara dengan pihak pemangku kebijakan.
"Padahal dalam aturan Peraturan Pemerintah (PP) No 74 sudah jelas bahwa mereka berhak disertifikasi walaupun kualifikasi pendidikannya tidak sarjana. Jadi, ini wajib diprioritaskan lebih dahulu dibandingkan guru-guru yang masa mengajarnya singkat. Jangan karena ada lobi-lobi politik, kedekatan atau ikatan saudara," jelas Darlispon.
Untuk itu, sebaiknya Disdik bisa melihat realita yang ada dan pengaturan kuota sertifikasi guru dapat diperhatikan sehingga berkeadilan bagi para guru. Mereka (guru-red) harus lebih memperhatikan daftar urutan kepangkatan (DUK) guru. Hal lain yang menjadi catatan adalah koordinasi dalam program sertifikasi tersebut.
Begitu pula dengan muitu pendidikan yang ada, dikatakan Cici, perlunya ada penataan lebih baik lagi dan Disdik tahu pemetaan pendidkan ditiap wilayah dengan baik . Karena kata dia, dengan dukungan anggaran 20% baik dari pemerintah pusat, provinsi, dan kota Batam , seharusnya kualitas dan mutu pendidikan lebih baik lagi.
Disdik Disarankan Buka Excellent Class
Sementara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Batam sendiri, disarankan Darlispon, agar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam menerapkan kebijakan kepada setiap sekolah baik SMP maupun SMA negeri untuk menerapkan excellent class atau kelas Akselerasi.
Sesuai dengan artinya, kata Darlispon, kelas akselerasi ini hanya diisi oleh para siswa yang berkualitas atau benar-benar excellent yang bisa cepat menyelesaikan masa studi yang tadinya ditempuh dalam tiga tahun bisa hanya dua tahun saja. Hal ini sangat efektive, karena siswa yang berprestasi ini waktunya tidak tersita dalam mengembangkan IQ dan potensinya.
"Bagi anak yang sering menjadi juara I terus, harus dikasih kesempatan untuk mencoba masuk kelas Akselerasi ini. Nah bila nanti dia tidak mampu menyelesaikan studinya, tidak masalah anak tersebut di kembalikan lagi pada kelas leguler. Hal ini telah dilakukan di salah satu pesantren di Jawa dan ternyata cukup berhasil," ujar Darlispon.
Sejauh ini pada sekolah negeri di Batam, diakui Darlispon, belum menerapkan adanya kelas Akselerasi baru sebatas sekolah unggulan dan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) saja. Berbeda dengan sekolah swasta telah menerapkan sistem tersebut.
Hanya saja konsekwensinya, kata Darlispon, pihak sekolah juga harus menempatkan tenaga pengajar yang benar-benar guru berkualitas. Serta siswa yang masuk ke kelas Akselerasi ini, minimal memiliki IQ 125 dan harus mengikuti beberapa tes akademi, dan ada persetujuan dari orang tua. Namun untuk excellent class ini, tidak semua siswa bisa mengikutinya tentunya bagi siswa yang punya kemampuan tertentu yang bisa masuk kelas ini.
UN Bukan Indikator Keberhasilan Pendidikan
Sementara Ketua Yayasa Pendidikan Al Kaffah, Said Indra, mengisyaratkan agar pemerintah tidak menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai satu indikator menilai keberhasilan pendidikan suatu daerah, karena sejauh ini UN tersebut hanya menilai kemampuan intelektual saja, sebagian kecil dari aspek pendidikan. Karena ruang lingkup pendidikan itu sendiri sangat luas.
Indra menilai, sejauh ini pemerintah daerah selalu mengkait-kaitkan menjadikan UN ini sebagai satu indikator keberhasilan pendidikan. Padahal pendidikan secara keseluruhan meliputi empat aspek, yakni intelektual yang bisa diukur melalui UN, spiritual, emosional dan kinestetik atau jasmani.
Sejauh ini, ia melihat bila UN ini bisa mengukur satu aspek saja dalam pendidikan, yakni intelektual. Sedangkan indikator keberhasilan pendidikan lainnya tidak bisa dipantau melupakan aspek pendidikan lainnya. Padahal, kenyataannya hakekat pendidikan itu sangat luas, tidak hanya keberhasilan dan nilai tinggi ketika UN, namun yang paling penting adalah perubahan perilaku dan emosional yang bagus dari peserta didik.
Ia meghimbau, agar pemerintah dan masyarakat juga bisa melihat bila proses pendidikan itu secara menyeluruh tidak hanya dari nilai UN saja. Sebaiknya ke depannya pemerintah perlu membuat terobosan-terobosan baru dalam meningkatkan mutu pendidikan. " Harus ada inovasi baru dalam mempola pendidikan ini, karena kalau bicara soal dana kita sudah lebih dari cukup. Hanya tinggal bagaimana saja kita membuat inovasi baru dalam peningkatan mutu pendidikan di Batam ini," jelasnya. (arment)
-------------------------------
Komentar
Prestasi Siswa Terus Ditingkatkan
Sebagai guru tentunya kami terus berusaha untuk meningkatkan mortivasi belajar dan prestasi siswa. Disamping itu juga pola kurikulum terus menerus disempurnakan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini terbukti n kelas unggulan semua siswa menunjukan nilai semesteran yang cukup menggembirakan. Sama halnya kelas reguler hanya beberapa orang saja yang kurang. Namun bila hal ini terjadi, komunikasi dengan orang tua selalu kita lakukan .
Zuhernawati
Waka Kurikulum SMPN 4 Batam.
------------
Motivasi Selalu Ditanamkan
Supaya mutu pendidikan baik dan anak berprestasi, kami sebagai guru tak henti-hentinya untuk memotivasi siswa. disamping itu juga pola belajar lebih mengarah kepada IT dan Multi media, serta infocus. Hal ini supaya anak menerima pelajaran mudah dicerna dan tidak bosan . Begitupula pola kurikulum IPA disiati dengan mediasi alam terbuka.
Suwiati
Guru Fiqih MTsN Batam
------------
Selain KKM Ahlak Perlu Tanamkan
Pola belajar dianggap berhasil selain memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM)/ tuntas belajar dan anak pintar, ahlak dan budi pekerti juga perlu ditanamkan. Artinya bila si anak memperoleh nilai kecil, dan prilakunya kurang baik, maka sebagai guru harus memberi kesempatan remidial dan merubah sikap anak didik lebih santun lagi. Kebetulan melihat hasil semesteran pelajaran dan akhlak anak didik di MTsN Batam ini cukup bagus, maka anak pun tidak jarang sekali yang ikut remidial atau pembinan akhlak..
Anedi, S.Ag
Guru Aqidah Ahlak
Rabu, 24 Februari 2010
Upaya MAN 2 Batam Siasati Keterbatasan Sarana
Praktek Numpang di MTs
Madrasah Aliayah Negeri (MAN) 2 Batam, merupakan salah satu sekolah Islam yang tahun ini akan meluluskan siswanya di Ujian Nasional (UN) berjumlah 48 peserta. Meski dilihat fasilitas dimiliki sangat terbatas, namun bagi para siswa, guru dan kepala sekolah bukan menjadi halangan untuk berprestasi. Karena mereka pandai menyiasatinya dengan cara memanfaatkan menumpang fasilitas yang dimiliki MTs Negeri Batam yang satu lingkingan dengan sekolahnya.Selain kekurangan fasilitas, labolatorium, perpustakaan, ruang kelas baru dan tempat ibadah, MAN 2 ini juga masih kekurangan tenaga pengajar (guru). Terutama guru untuk bidang studi umum, seperti Matematika dan IPA. Meski semua itu bisa disiasati, namun tetap saja dalam proses belajar mengajar (PBM) untuk kedua mata pelajaran tersebut dirasakan kurang maksimal. Misalnya ketika try out bersama yang digelar Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kepri belum lama ini, perolehan nilai try out kurang memuaskan alias jeblok, terutama jatuh pada pelajaran Matematika dan IPA.
"Pada try out Pelajaran IPA yang jatuh sekali, karena kita tidak memiliki lab, padahal untuk mengamplikasikan materi IPA itu harus di praktekan di dalam Labor. Meski guru telah menyiasati dengan membawa mediasi alat praktek ke kelas, masih saja kurang mengenai sasaran yang kita inginkan," ujar Kepala Sekolah MAN 2 Batam, Ulfa Ismiyati, S.Pd, saat Tim Fokus Pendidikan Sijori Mandiri menjambangi MAN 2 Batam beberapa hari lalu.
Dijelaskan Ulfa, bila pelaksanaan PBM di MAN 2 Batam cukup padat, malah agar waktu belajar siswa lebih panjang pihaknya memberlakukan jam belajar dimulai 6.30 WIB hingga 14.30 WIB. Upaya ini, kata Ulfa dalam rangka menambah jam pelajaran untuk pembahasan materi mata pelajaran yang akan di UN-kan. Hal ini Ulfa terapkan dalam upaya kiat-kiat membina anak didiknya agar menjadi siswa terbaik dalam pencapaian hasil UN. Setidaknya hasil nilai UN lebih baik lagi dari perolehan try out.
Meski hasil try out bersama Disdik kurang memuaskan, namun Ulfa merasa bangga karena murni hasil dari siswanya, malah dari hasil tersebut kata Ulfa, dirinya bersama para guru bisa mengevaluasi dan dijadikan spirit serta motivasi bagi anak didiknya supaya bisa lebih baik lagi dalam mempersiapkan diri menghadapi UN mendatang. Hal ini dapat terlihat dari perkembangan selanjutnya ketika antar madrasah mengadakan try out bersama, perolehan nilai siswanya cukup mengembirakan hampir lulus try out semuanya.
"Motivasi belajar anak didik cukup meningkat, mereka bersemangat belajar untuk mengejar ketertinggalan. Ya kita harapkan anak didik kita bisa lulus semuanya, meski baru pertama kali menjadi peserta UN," kata Ulfa berharap.
Menurutnya, hasil try out belum menjadi gambaran bahwa siswa tidak mampu. Karena ia menilai, banyak faktor yang mengakibatkan siswa gagal pada try out. Yakni, karena pengalaman pertama siswa sehingga masih memungkinkan cara menjawab siswa banyak salah tarsir. Dan inilah kata dia fungsinya try out menjadi bahan evaluasi. Di mana kelemahan murid, apakah kesalahan tarsir, atau kemampuan materi yang belum terpenuhi, kata Ulfa. Dan ia merasa optimis, pada try out kedua nanti hasilnya akan lebih meningkat dari yang pertama. Saat ini, dirinya juga selain mengesa materi UN juga sedang menyiapkan mental para siswa.
Selaku kepala sekolah, Ulfa memang punya aturan dalam menerapkan kedisiplinan kepada siswa dan guru dalam PBM, ia pun selalu memantau kegiatan setiap hari terutama untuk kelas akhir. Ia sendiri meski kepala sekolah, ikut memberikan pelajaran kepada siswanya dengan harapan semua siswa bisa tuntas dalam menerima pelajaran. Ulfa juga merupakan sosok kepala sekolah yang cukup terbuka dan kerap berkonsultasi dengan komite dalam pelaksanaan PBM, agar mendapat dukungan setiap program yang dijalankan pihak sekolah dengan tujuan MAN 2 Batam ini dapat maju seperti sekolah lainnya. "Prestasi non akademik cukup banyak diraih para siswa MAN 2 Batam ini, baik bidang olahraga, MTQ, dan bidang lainnya selalu meraih juara," kata Ulga lagi menandaskan. (arment)
200 Guru dan Kepala Sekolah Bakal Dibekali Sertifikat Kompetensi
200 Guru dan Kepala Sekolah
Bakal Dibekali Sertifikat Kompetensi
Sijori Mandiri - Sebanyak 200 guru dan Kepala Sekolah di Batam akan dibekali sertifikat kualifikasi dan kompetensi agar mencukupi dalam mengajar di sekolah. Pembekalan kompetensi ini dialaksanakn pada bulan Pebruari kerjasama antara Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam dan PGRI bersama Yayasan Pengembangan & Pembinaan Pendidikan Nusantara. tahap awal pembekalan ini hanya membina 200 guru SD yang dijadikan pilot project keberhasilan dari program ini. Namun kedepannya seluruh guru di Batam akan ikut dalam program ini.
Pimpinan Yayasan Pengembangan & Pembinaan Pendidikan Nusantara (YP3N) , Ir HM Taufik Hazairin MM, menyatakan pembekalan Kompetensi guru ini agar proses belajar mengajar lebih terarah lagi dalam penyampain materi, terutama dalam mempersiapkan UASBN, MTK, Sain, dan bahasa Indonesia. Pembekalan kompetensi guru ini, akan dibina dosen berpengalaman YP3N bekerjasama dengan UPI Bandung dan Universitas Jakarta.
Sejauh ini menurut Taufik, kurikulum yang diterapkan cukup bagus, hanya saja belum bisa dibuktikan sebatas mana kurikulum tersebut penerapannya. Hal ini dikarenakan, masih ditemukan guru yang kurang berkompeten yang mengajar tidak sesuai rool yang telah ditentukan. Terutama para guru di daerah hinterland, mereka belum paham akan manajemen mutu pendidikan.
"Sejauh ini kalau saya lihat guru tersertifikasi, tapi pola mengajar belum ada perubahan. Sertifikasi yang ia dapat itu hanya sebatas formal admistrasi saja tidak sesaui dengan harapan," ujar taufik.
Disadari Taufik, keberhasilan program yang diterapkannya itu (kompetensi-red) tidak semerta-merta terlihat langsung peningkatan perubahannya. Karena kata dia, mendidik manusia itu perlu waktu. Namun langkah ini merupakan awal upaya dalam peningkatan proses mengajara, berhasil tidaknya tergantung motivasi personel gurunya itu sendiri.
Pasalnya kata dia, program ini untuk bekal ilmu pengetahuan guru sesuai bidang dan kompetensinya. Apalagi sejauh ini terkait teknologi, masih banyak guru yang belum melek teknologi. Dengan demikian, tidak hanya cukup guru itu dengan seminar-seminar pendidikan tentang teknologi yang perlu dilaksanakan. Tapi, belajar secara mandiri juga diperlukan untuk mengejar ketertinggalan, dalam hal ini adalah teknologi informasi. Makanya dalam pembekalan kompetensi nanti akan mengakomodir semuanya.
"Sewajarnya bila tenaga pendidik untuk mata pelajaran apa pun, dituntut mampu menguasai ilmu teknologi informasi dan komunikasi. Dengan demikian, paling tidak guru telah berupaya mewujudkan proses menuju profesionalisme, yang salah satunya adalah mampu mengikuti (tidak tertinggal) arus perkembangan informasi di masyarakat," jelasnya.(arment)
Aliyah Berhasil Sabet Juara II Guru Teladan Tingkat Nasional
Provinsi Kepri boleh merasa berbangga hati, karena salah seorang guru telah berhasil mencatat prestasi nasional awal tahun 2010 ini. Apalagi prestasi yang diraih ini patut dibanggakan oleh masyarakat Provinsi Kepri, karena untuk mendapatkan predikat guru teladan nasional tidak mudah harus mampu menggeser ratusan ribu guru lainnya tentunya dengan kemampuan, disiplin dan profesionalisme yang prima.
Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional, telah menobatkan salah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di MTsN Batam bernama Aliayah SPd. Ia berhasil menjadi juara II Guru Teladan Tingkat Nasional yang telah dianugerahkan pada 3 Januari 2010 kemarin.
Sama dengan utusan dari provinsi lainnya, sebelum ketingkat nasional Aliyah berhasil melewati berbagai proses seleksi, mulai pada tingkat Kota Batam, tingkat Provinsi, hingga ketingkat nasional. Seperti seleksi tingkat nasional ini, tes mulai dari seleksi fortopolio, wawancara, dan presentase karya tulisnya.
Saat di wawcarai Sijori Mandiri, ia menyatakan rasa bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, dengan harapan dirinya bisa mengembangkan amanat dan membawa kebaikan untuk peningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan. Karena disadari Aliyah, bahwa keberhasilan yang ia peroleh itu merupakan keberhasilan bersama. Karena kata dia, tanpa ada dukungan dari semua pihak tak mungkin ia bisa memperoleh prestasi sebaik itu.
Bagi Aliyah sendiri, predikat guru teladan tingkat nasional ini , merupakan beban moral berat yang harus ia jalani. Karena segala tindak tanduk yang ia lakukan akan dijadikan tolak ukur harus sejalan dengan gelar yang telah ia sandang itu. "Jadi bukan sekedar teoritis saja. Melainkan harus dibuktikan dengan sikap sesuai dengan status guru teladan tersebut. Malah saya merasa tertantang untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan dan prestasi anak didik.
Untuk itu Aliyah juga menginginkan kawan-kawan se profesinya itu bisa menjadi guru teladan tingkat nasional, jangan kalah dari daerah lain," ujarnya disela-sela kesibukannya mengajar bahasa Indonesia di sekolahnya MTsN Batam. (arment)
Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional, telah menobatkan salah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di MTsN Batam bernama Aliayah SPd. Ia berhasil menjadi juara II Guru Teladan Tingkat Nasional yang telah dianugerahkan pada 3 Januari 2010 kemarin.
Sama dengan utusan dari provinsi lainnya, sebelum ketingkat nasional Aliyah berhasil melewati berbagai proses seleksi, mulai pada tingkat Kota Batam, tingkat Provinsi, hingga ketingkat nasional. Seperti seleksi tingkat nasional ini, tes mulai dari seleksi fortopolio, wawancara, dan presentase karya tulisnya.
Saat di wawcarai Sijori Mandiri, ia menyatakan rasa bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, dengan harapan dirinya bisa mengembangkan amanat dan membawa kebaikan untuk peningkatkan kinerja dan kualitas pendidikan. Karena disadari Aliyah, bahwa keberhasilan yang ia peroleh itu merupakan keberhasilan bersama. Karena kata dia, tanpa ada dukungan dari semua pihak tak mungkin ia bisa memperoleh prestasi sebaik itu.
Bagi Aliyah sendiri, predikat guru teladan tingkat nasional ini , merupakan beban moral berat yang harus ia jalani. Karena segala tindak tanduk yang ia lakukan akan dijadikan tolak ukur harus sejalan dengan gelar yang telah ia sandang itu. "Jadi bukan sekedar teoritis saja. Melainkan harus dibuktikan dengan sikap sesuai dengan status guru teladan tersebut. Malah saya merasa tertantang untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan pendidikan dan prestasi anak didik.
Untuk itu Aliyah juga menginginkan kawan-kawan se profesinya itu bisa menjadi guru teladan tingkat nasional, jangan kalah dari daerah lain," ujarnya disela-sela kesibukannya mengajar bahasa Indonesia di sekolahnya MTsN Batam. (arment)
Langganan:
Postingan (Atom)
